Selasa, 15 April 2014

Teks Syarhil Qur'an_Islam dalam Kehidupan Multikultular



ISLAM DALAM KEHIDUPAN MULTI KULTURAL

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ جَعَلَ اْلإِنْسَانَ خَلِيْفَةً، بِاِرْسِطَاةِ وَاَنْوَاعِ مُخْتَلِفَةٍ. وَبِذَالِكَ اَوْجَبَ عَلَيْنَا اِخْوَةِ. الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلى رَسُوْلِ الِلّه وَعَلى الِه وَصَحْبِه وَمَنْ تَبِعَ رِسَالَتَهُ {اما بعد}

Dewan hakim yang mulia
Para hadirin yang berbahagia, dari manapun asalnya, apapun sukunya, dan siapapun dia, saat ini kita besama-sama berkumpul diarena ini, berbaur menjalin silaturrahim antara satu dengan yang lainnya.

Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Hal ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Populasi penduduknya lebih dari 200 juta jiwa, terdiri dari 300 suku yang menggunakan hampir 200 bahasa yang berbeda. Selain itu mereka juga menganut agama dan kepercayaan yang beragam seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghuchu serta berbagai aliran kepercayaan lainnya.
Kita patut berbangga bahwa negara kita ini, adalah Negara yang kaya raya dengan beragam agama, suku, bahasa dan budaya tersebut. Tapi yang perlu kita ingat  para hadirin….hendaknya perbedaan, kemajemukan, dan keragaman tersebut membuat kita lebih kuat dan lebih hebat. Hindari Rasisme dan diskriminisme karena paham tersebut merupakan paham yang sangat paradoks dengan kemajemukan. Penghargaan dalam Islam tidak berdasarkan ras, suku, keturunan, prestise, tapi penghargaan dalam Islam berdasarkan amal dan prestasi.
Lalu bagaimana pandangan islam dalam menyikapi kehidupan yang beragam ini? sebagai jawabannya tema Syarhil qur’an yang akan kami sampaikan “ISLAM DALAM KEHIDUPAN MULTI KULTURAL”, yang akan kami uraikan dengan berlandaskan surah Al-Hujurat ayat 13 sebagai berikut :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ


Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling  taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”

Dewan hakim dan hadirin yang kami hormati
Ayat tadi, dari segi ilmu balaghah merupakan kalam khabar,mengandung misii informasi. Sedangkan secara historis sosiologis, menurut ibnu Asy-Syakir dalam kitabul mubhamat, yang bersumber dari Abu Bakar bin Abi Dawud, ayat tersebut diturunkan sebagai teguran kepada bani Baydhah yang menolak dinikahkan oleh Rasulullah saw kepada budak mereka yang bernama Abi Hindin. Pada saat itu, datang Jibril menyampaikan wahyu surah Al-Hujurat ayat 13 tadi, bahwa Allah SWT menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan, bercorak suku dan berlainan bangsa. Semua memiliki harkat, derajat dan martabat yang sama di hadapan Allah SWT, fungsinya :
لِتَعَارَفُوا أَيْ  لِيَحْصِلَ بَيْنَكُمُ الْتَعَارَفُ وَالتَّأَلَّفُ
Agar kamu saling mengenal, menjalin komunikasi harmoni, menebarkan cinta kasih yang tiada pilih kasih serta menyamakan rasa sayang yang tiada pandang sayang. Demikian penjelasan Ali Ash-Shabuni dalam Shafwatut tafasirnya.
Dengan kata lain, ayat ini merupakan landasan theologies, yang sangat strategis membangun ukhuwah wathaniyah sebagai pilar persatuan dan kesatuan di negeri tercinta ini. Langkah awalnya, kita harus saling mengenal, bukan saling menutup diri, melecehkan, menghina, membanggakan kelompok, suku bangsa, adat istiadat maupun daerah masing-masing, sebab itu semua wahai para hadirin, merupakan virus-virus persatuan, penghambat persatuan, bahkan penghancur persatuan bangsa, betul...?
Saudara-saudara, apakah rela bangsa yang besar yang dibangun dengan susah payah oleh para pendahulu kita, dengan genangan air mata, cucuran keringat, bahkan kocoran darah para syuhada ini, harus porak poranda hanya gara-gara kepentingan kelompok, suku dan golongan ? tentu tidak ! ingat Rasulullah bersabda :
لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا عَلَى عَصَبِيَّتِهِ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّتِهِ
"Bukan golongan kita, orang yang membangga-banggakan kesukuan, dan bukan golongan kita orang yang mati karena membela, mempertahankan dan memperjuangkan kesukuan".
oleh karena itu saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, kami menghimbau untuk memperkokoh persatuan di antara kita, kita bina kebersamaan dan kita junjung tinggi semangat Bhinneka Tunggal lka, setuju .... ?
Allah SWT mengisyaratkan agar saya, saudara dan kita semua memperkokoh persatuan dan kesatuan, serta melarang bercerai-berai, sebagaimana yang tertuang dalam firman-Nya yang berbunyi :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ


 Artinya : “dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat­ ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

Hadirin yang kami hormati
Menurut Al Faryabi dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas, asbabun nuzul ayat ini adalah berkenaan dengan pertentangan antara kaum Aus dan kaum Khazraj sampai-sampai tatkala Rasulullah sedang sakit, tiba-tiba terdengar pertentangan kedua suku tersebut, mereka terus terlibat ke dalam bentrokan fisik dengan cara-cara jahiliyah. Meski Rasulullah dalam keadaan sakit parah, sambil berjalan sempoyongan, beliau tetap berusaha untuk melarai pertengkaran yang terjadi di antara kedua suku tersebut. Nampak tubuhnya lemas, wajahnya pucat‑ pasi, air mata berlinang membasahi pipi, bibirnya kering bergetar, suaranya parau dengan terputus-putus, beliau bersabda:
اَبَدًا اَبَدًا اَبَدًا الْجَاهِلِيَّةُ مِنْ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتِ وَاَنَا اَحْضِرُ بَيْنَكُمْ
"Apakah kamu akan kembali ke dalam tradsi jahiliyah ( bepecah-belah ) setelah datang penjelasan-penjelasan dan aku masih hadir di antara kalian?".
Nampak suasana hening mencekam, sementara kaum Aus dan Khazraj, mereka menundukkan kepala sebagai tanda hormat, berbalut malu kepada baginda Rasulullah saw karena mereka berseteru. Sikap Rasul ini wahai para hadirin, merupakan realisasi ukhuwah Islamiyah yang tergambar pada ayat ini yang harus kita teladani, kenapa ? karena perpecahan antara kaurn Aus dan Khazraj merupakan symbol bibit-bibit perpecahan internal Islam. Realitas sering menunjukkan terkadang cuma gara-gara perbedaan furu'iyah berlainan organisasi yang dipengaruhi kepentingan pribadi dan kelompok, Lantas pisah partai, putus sillaturrahim, berakhir dengan saling tonjok, saling rampok bahkan bisa berujung saling bacok. Na'udzubillahi min dzalik. Padahal bukankah sesama muslim itu bersaudara, sesama mukmin ibarat satu bangunan, bukankah sesama insan beriman bagaikan satu tubuh, yang jika satu sakit yang lain harus merasakan derita kepayahan. Karena mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam, jika internal Islam berseteru maka persatuan bangsa akan terganggu, betul ?
Oleh karena itu, mulai detik ini kita Betulkan langkah, seragamkan gerak, satukan persepsi, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Perbedaan jangan menimbulkan perpecahan tapi dengan perbedaan harus saling menghargai dan melengkapi.

Hadirin yang berbahagia
Sebagai penutup dari syarahan ini, dapat disimpulkan bahwa persatuan dan kesatuan merupakan syarat yang paling utama untuk membangun bangsa, oleh karena itu dalam memandang pentingnya merajut kebersamaan dan merangkai persatuan di Republik yang kehidupannya multi kultural ini. Caranya adalah dengan memantapkan ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah Islamiyah. Bila kedua upaya ini kita lakukan, kami yakin persatuan bangsa kita terbina, keutuhan NKRI akan lestari, dan Indonesia akan jaya dengan keragamaannya. Amin ya rabbal `alamin...
Demikianlah syarahan Qur’an yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat, kurang lebihnya mohon maaf.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.


Jumat, 11 April 2014

Khutbah Jum'at_Ketetapan Iman



اَلْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَاعُدْوَانَ اِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اَلْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ. وَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّابَعْدُ فَيَاعِبَادَاللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى اللهِ حَقَّ تُقَاتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ "وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلُهُ وَيَخْشَ اللهَ وَيَتَّقْهِ فَاُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُوْنَ".
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama berupaya meningkatkan rasa takwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya melalui pelaksanaan ibadah di tengah-tengah kehidupan masyarakat dengan mengembangkan sifat-sifat yang baik dan mulia.
Selanjutnya, marilah kita sampaikan rasa syukur ke hadhirat Ilahi atas segala nikmat yang dikaruniakanNya kepada kita sekalian seraya dengan senantiasa meningkatkan amaliah-amaliah hasanah.
Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, Nabi akhir jaman yang kita nantikan dan harapkan syafa'atnya di hari kiamat kelak.

Jama'ah Jum'at Rahimakumullah

Sejalan dengan dicapainya anugerah nikmat iman dan menjadi seorang mukmin, maka hal ini hendaknya senantiasa dipelihara dan dibentengi dengan ilmu agama untuk mewujudkan amal ibadah yang sesuai dengan apa yang digariskan oleh Allah SWT sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Di dalam diri pribadi seorang mukmin akan terwujud sifat jiwa yang tenang, ucapan yang benar dan jujur, bersedia mendengarkan nasehat orang lain, mampu menyadari berbagai hikmah dibalik sebuah peristiwa, serta hatinya terbebas dari sifat-sifat yang jahat, bahkan tidak sekalipun akan terlintas dalam hatinya niat melakukan kejahatan apalagi benar-benar melaksanakannya. Dari sifat yang demikian akan mewujudkan rangkaian ibadah dan amal-amal soleh.
Seorang mukmin yang telah mendapatkan ketetapan iman dengan wujud ibadah dan amal soleh tersebut diisyaratkan oleh Allah dalam al Qur'an

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki (Q.S Ibrahim ayat 27)
Jama'ah Jum'at yang dimuliakan Allah
Marilah kita senantiasa bertafakkur seraya bermuhasabah (introspeksi) terhadap segala perbuatan yang telah kita lakukan. Mudah-mudahan Allah selalu menyinari hati kita dengan nur keimanan serta meneguhkannya di dalam hati sanubari kita, dan selalu membimbing langkah-langkah kita dengan taufiq dan hidayahNya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى الْقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ وَ نَفَعَنِى وَ اِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاَيَاتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّى وَ مِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Jumat, 07 Maret 2014

Khutbah Jum'at_Waspadai Ajaran sesat



الْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ. وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ.وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ﻻَ ﻧَﺒِﻲﱠ ﺑَﻌْﺪَﻩُ.اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّابَعْدُ؛ ، فَيَا اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ الله ! اُوْصِيْكُمْ وَ اِيَّايَ بِتَقْوَى الله. اتَّقُوا اللهَ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ،
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…
Marilah bersama-sama kita meperbaharui niat kita untuk selalu meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Dengan tetap istiqamah melakukan amal-amal shaleh sesuai dengan apa yang disyria’at oleh junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.
Oleh sebab itu jama’ah jum’at yang terhormat, kita patut berhati-hati, waspada, bahkan menolak keras ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan apa yang disyria’at oleh Nabi kita Muhammad SAW. Kendatipun ajaran itu juga bernama Islam.
Sebagaimana kita ketahui, saat ini sudah sangat banyak bermunculan ajaran-ajaran yang sesat dan menyesatkan. Seperti ajaran yang tidak lagi mewajibkan shalat lima waktu, ajaran yang bisa menebus dan membeli surga dengan harga hanya jutaan rupiah, ajaran yang menghalalkan hubungan intim diluar nikah bahkan hubungan intim dengan isteri orang lain, dan banyak lagi ajaran-ajaran yang sesat dan menyesatkan yang lainnya.
Jama’ah jum’at yang…
Kerena itu kita selalu memohon petunjuk kepada Allah SWT sekurang-kurangnya 17X didalam sehari semalam yaitu disetiap rakaat shalat lima waktu kita, sesuai dengan kalimat yang difirmankan Allah SWT dalam surah Al-Fatihah ayat 6 dan 7.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ
Artinya : “Tunjukilah Kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.
Semoga Allah SWT, selalu memberikan taufik dan hidayahNya kepada kita semua sehingga kita tetap berada dijalanNya yang lurus sesuai dengan apa yang disyaria’at oleh junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Amiin…
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
بَارَكَ الله ُلِي وَلَكُمْ فِى القُرْاَنِ الْكَرِيْمِ وَ نَفَعَنِى وَ اِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَ الذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ الله مِنِّى وَ مِنْكُمْ تلآوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ