Rabu, 12 November 2014

Hidayah datang dari Allah


Mereka (Ashabul Hadits) bersaksi bahwa Allah ta'ala memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki menuju Agama-Nya dan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki untuk menjauhi Agama-Nya, namun bagi orang yang disesatkan-Nya tidak ada alasan (untuk bebas dari siksa-Nya). 

Allah berfirman:
قُلْ فَلِلّٰهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَوْ شَاء لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ

"Katakanlah: "Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya". (Al-An'am:149)

Allah berfirman:
وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

"Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi) nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) daripadaku; "Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama. (as-sajdah:13)

Allah juga berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ 

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi nereka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. (Al-A'raf:179)

Maha suci Allah yang telah menciptakan makhluk tanpa merasa butuh kepada mereka. Allah menciptakan mereka dalam 2 golongan.  Satu golongan berhak masuk kedalam tempat kenikmatan sebagai keutamaan yang Allah berikan, dan golongan yang lain dimasukkan ke neraka sebagai keadilan.

Allah menjadikan diantara mereka ada yang tersesat dan ada yang terbimbing, ada yang celaka dan ada yang bahagia. Ada yang dekat dengan rahmat-Nya dan ada yang jauh dari rahmat-Nya.

Allah berfirman:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

"Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. (Al-Anbiya':23)

Allah berfirman:
أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

"Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. (Al-A'raf:54)

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم علقه مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك , ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح , ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه , وأجله , وعمله , وشقي أم سعيد . فوالله الذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار , وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة

"Sesungguhnya bakal penciptaan seseorang diantara kamu dikumpulkan dalam perut ibunya dalam 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari), kemudian menjadi segumpal daging selama itu juga. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk menetapkan 4 perkara : rizkinya, ajalnya, amal perbuatannya, ia celaka atau bahagia.  Maka demi Allah yang tiada tiada Tuhan selain Dia, sungguh seorang diantara kamu ada yang melakukan amalan ahli syurga hingga tidak ada diantara dia dan syurga itu kecuali sehasta saja, kemudian dia didahului oleh taqdir Allah, lalu ia melakukan amalan ahli neraka, maka ia pun masuk neraka.  Dan sungguh salah seorang diantara kamu melakukan amalan-amalan ahli neraka, sehingga tidak ada anatara dia dan neraka kecuali sehasta saja, maka ia didahului oleh takdir Allah, lalu ia melakukan amalan ahli syurga, maka ia pun masuk syurga" (HR.Bukhari, Muslim dan lainnya)

Sumber : Kompilasi file CHM oleh Abu 'Abdirrahman Muhammad Taufiq

Perbuatan Hamba adalah Ciptaan Allah

Termasuk diantara pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah keyakinan bahwa perbuatan hamba adalah makhluk (diciptakan oleh) Allah 'azza wa jalla. 

Mereka tidak ada yang membantah permasalahan ini, sebaliknya mereka menganggap orang-orang yang mengingkari hal ini sebagai orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dan petunjuk

Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat dengan Sengaja

Ulama Ahli Hadits berbeda pendapat mengenai orang yang meninggalkan shalat wajib dengan sengaja. 

Imam Ahmad dan banyak ulama salaf (Diantara mereka: Ishaq bin Rahawaih, Ibnul Mubarak, Ibrahim An-Nakha'i, Al-Hakam bin Utaibah, Ayyub As-Sakhtiyani, Abu Bakar bin Syaibah, Abu Khaitsamah, Zuhaeir bin Harab dan lainnya. Adapun dari kalangan: Sahabat: Umar bin Khatab, Mu'adz bin Jabal, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Jabir bin Abdullah, Abu Darda dan lainnya) menganggap kafir orang tersebut dan mengeluarkannya dari Islam, berdasarkan hadits shahih bahwasanya Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Yang membatasi antara seorang hamba dan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat. Siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir." (Dikeluarkan oleh Ibnu Nashar, Muslim, Ahmad dan lainnya)

Sementara Imam Syafi'i, para sahabatnya dan banyak ulama salaf menganggap orang tersebut belum kafir, selama masih meyakini kewajiban shalat tersebut. Akan tetapi mereka berpendapat bahwa orang tersebut harus dibunuh, sebagaimana dibunuhnya orang-orang murtad. 

Mereka menafsirkan sabda Nabi shallallahu'alaihi wa sallam:
"Siapa yang meninggalkan shalat (dengan mengingkari kewajibannya) maka ia kafir"

Hal itu sebagaimana firman Allah:
إِنِّي تَرَكْتُ مِلَّةَ قَوْمٍ لاَّ يُؤْمِنُونَ بِاللّٰهِ وَهُم بِالآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ

"Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka kafir (ingkar) kepada hari kemudian" (Yuusuf:37).

Beliau (Yusuuf) meninggalkan mereka bukan karena tindakan yang belum jelas kekufurannya, namun karena mereka mengingkari (Allah dan hari akhir).

Sumber : Kompilasi file CHM oleh Abu 'Abdirrahman Muhammad Taufiq

Seorang Muslim Tidak dikafirkan karena Dosa-dosanya

Ahlus Sunnah berkeyakinan bahwa seorang mukmin meskipun melakukan dosa-dosa kecil  dan besar tidak bisa dikafirkan dengan semuanya itu. Meskipun dia meninggal dunia dalam keadaan belum taubat, selama masih dalam tauhid dan keikhlasan, urusannya terserah Allah. 

Jika Ia menghendaki, Ia akan mengampuni dan memasukkannya ke surga pada hari Kiamat dalam keadaan selamat, beruntung dan tidak disentuh oleh api neraka, tidak disiksa atas segala dosa yang pernah dilakukannya, ia biasakan dan terus menyelimutinya sampai hari kiamat.

Namun apabila Allah kehendaki, bisa saja Ia menyiksanya di neraka untuk sementara, namun adzab itu tidak kekal, bahkan akan dikeluarkan untuk dimasukkan ke tempat kenikmatan yang abadi (surga)

Guru kami (Al-Imam Abu Thayyib) Sahal bin Muhammad (As-Sha'luki) rahimahullah berkata: "Seorang mukmin, walaupun disiksa di neraka, ia tidak akan dicampakkkan seperti dicampakkannya orang kafir. Ia pun tidak kekal seperti orang-orang kafir, dan ia tidak akan celaka seperti celakanya orang kafir" 

Artinya, bahwa orang kafir akan diseret ke neraka dan dalam keadaan tersungkur wajahnya, dibelenggu, dibebani dengan beban yang berat. Sedangkan seorang mukmin yang dihukum di neraka, ia akan masuk seperti tahanan yang masuk penjara di dunia dengan berjalan, tanpa dijungkir-balikkan, atau dicampakkan seperti pada orang kafir. 

Arti ucapan: "dia tidak akan dicampakkan seperti orang kafir yaitu bahwa orang kafir dimasukkan seluruh tubuhnya ke neraka dan setiap kali kulitnya gosong, kemudian diganti dengan kulit yang baru, agar ia betul-betul merasakan siksa-Nya, sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur'an:

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An-Nisaa:56)

Adapun orang-orang beriman, wajah-wajah mereka tidak akan disentuh oleh api neraka, dan anggota sujud mereka juga tidak akan dibakar api neraka, karena Allah telah mengharamkan neraka untuk membakar anggota-anggota sujud.
Dalilnya sabda Nabi shallallahu'alaihi wa sallam:
"Allah mengharamkan bagi api nereka untuk menjilat bekas-bekas sujud. "(HR. Bukhari) dan lainnya
                                             
Arti ucapan beliau: "mereka tidak akan kekal didalamnya seperti orang kafir". Orang-orang kafir kekal di neraka dan tidak akan dikeluarkan selama-lamanya, sedangkan pelaku dosa-dosa besar dikalangan mukminin tidak akan kekal di neraka (jika masuk).
Makna ucapan beliau: "tidak akan celaka seperti celakanya orang kafir". Bahwasanya orang-orang kafir putus asa untuk mendapat rahmat Allah, mereka juga tidak mempunyai harapan sama sekali untuk senang. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tidak putus-putusnya mengharap rahmat Allah disetiap keadaan. Karena pada akhirnya seorang mukmin akan masuk surga, karena mereka diciptakan untuk masuk surga dan surga diciptakan untuk menjadi miliknya, sebagai keutamaan dan karunia dari Allah 'azza wa jalla

Sumber : Kompilasi file CHM oleh Abu 'Abdirrahman Muhammad Taufiq

Iman bisa Berkurang dan bertambah

Termasuk pemahaman Ahlu Hadits adalah meyakini bahwa iman adalah ucapan, perbuatan, dan ma'rifah, bisa berkurang karena kemaksiatan dan bertambah karena ketaatan.

Sufyan bin Uyainah menyatakan: "Iman itu adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang", maka saudaranya yang bernama Ibrahim bin Uyainah berkata: "Wahai Abu Muhammad, tadi kamu mengatakan iman bisa berkurang?!" Maka Sufyan bin Uyainah berkata: "Diam kamu 'anak kecil' Sungguh iman bisa berkurang hingga tidak tersisa sedikitpun."
Ibnu Mubarak rahimahullah suatu ketika datang ke kota, salah sorang ahli ibadah tiba-tiba mendatanginya -yang diperkirakan berpemahaman khawarij- lalu ia bertanya kepada Ibnu Mubarak: "Wahai Abu Abdirrahman, apa pendapatmu terhadap seorang pezina, pencuri, dan peminum khamar", Beliaupun menjawab: "Aku tidak mengeluarkannya dari keimanan." maka laki-laki itu menukas: "Kamu sudah tua malah menjadi murji'ah", maka Ibnu Mubarak menjawab: "Tidak, justru kami bertentangan dengan murji'ah, Murji'ah menyatakan kebaikan kita pasti diterima, sedangkan kemaksiatan kita pasti diampuni". Seandainya aku (Ibnul Mubarak) tahu bahwa kebaikanku diterima, niscaya aku bersaksi bahwa aku masuk surga, kemudia ia menukil ucapan Umar bin Khatab: "Seandainya imannya Abu Bakar dibandingkan dengan imannya seluruh penduduk Bumi, niscaya imannya Abu Bakar lebih berat"

Iman Mencakup Ucapan, Perbuatan dan Ma'rifah

Termasuk pemahaman Ahlu Hadits adalah meyakini bahwa iman adalah ucapan, perbuatan, dan ma'rifah, bisa berkurang karena kemaksiatan dan bertambah karena ketaatan.

Sufyan bin Uyainah menyatakan: "Iman itu adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang", maka saudaranya yang bernama Ibrahim bin Uyainah berkata: "Wahai Abu Muhammad, tadi kamu mengatakan iman bisa berkurang?!" Maka Sufyan bin Uyainah berkata: "Diam kamu 'anak kecil' Sungguh iman bisa berkurang hingga tidak tersisa sedikitpun."
Ibnu Mubarak rahimahullah suatu ketika datang ke kota, salah sorang ahli ibadah tiba-tiba mendatanginya -yang diperkirakan berpemahaman khawarij- lalu ia bertanya kepada Ibnu Mubarak: "Wahai Abu Abdirrahman, apa pendapatmu terhadap seorang pezina, pencuri, dan peminum khamar", Beliaupun menjawab: "Aku tidak mengeluarkannya dari keimanan." maka laki-laki itu menukas: "Kamu sudah tua malah menjadi murji'ah", maka Ibnu Mubarak menjawab: "Tidak, justru kami bertentangan dengan murji'ah, Murji'ah menyatakan kebaikan kita pasti diterima, sedangkan kemaksiatan kita pasti diampuni". Seandainya aku (Ibnul Mubarak) tahu bahwa kebaikanku diterima, niscaya aku bersaksi bahwa aku masuk surga, kemudia ia menukil ucapan Umar bin Khatab: "Seandainya imannya Abu Bakar dibandingkan dengan imannya seluruh penduduk Bumi, niscaya imannya Abu Bakar lebih berat"

Surga dan Neraka adalah Makhluk

Ahlus Sunnah bersaksi (dan berkeyakinan) bahwa surga dan neraka adalah makhluk ciptaan Allah, dan keduanya kekal abadi-tidak akan musnah. 

Orang yang masuk surga tidak akan keluar darinya, demikian juga penduduk neraka (dari golongan kafir) yang pantas memasukinya dan diciptakan untuk memasukinya, mereka juga tidak akan keluar darinya.

(Kematian akan dipenggal dan disembelih dibatas antara surga dan neraka, lalu datanglah suara memanggil) pada hari itu:
"Wahai penghuni surga, kekekalan bagimu dan tidak ada lagi kematian. Wahai penghuni neraka, kekekalan bagimu dan tidak ada lagi kematian." Demikian yang diriwayatkan dari hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam.(HR. Bukhari)