Senin, 10 November 2014

Turunnya Allah dan Kedatangan-Nya


Ahlul Hadits menetapkan kebenaran akan turunnya Allah ta'ala pada setiap malam kelangit dunia, tanpa menyerupakan dengan turunnya makhluk, tanpa memperumpamakannya serta tanpa mereka-reka bagaimananya.  
 
Namun mereka menetapkan sebatas yang ditetapkan oleh Rasulullah, dan menafsirkan berdasarkan dzahirnya, sementara hakikat maknanya mereka serahkan kepada Allah.

Demikian juga mereka menetapkan berita yang diturunkan Allah ta'ala dalam Al-Qur'an diantaranya mengenai Al-Maji' dan Al-Ityan (kehadiran dan kedatangan Allah), Allah berfirman :

هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ أَن يَأْتِيَهُمُ اللّٰهُ فِي ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَامِ وَالْمَلآئِكَةُ

"Tiada yang mereka nanti-nanti [pada hari kiamat] melainkan datangnya Allah dan malaikat dalam naungan awan..."(Al-Baqarah:210) 
وَجَاء رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفّاً صَفّاً
"Dan datanglah Rabbmu, sedang malaikat berbaris-baris." (Al-Fajar:22)

Kita mengimani sepenuhnya apa yang diberitakan tanpa mempersoalkan bagaimananya. Seandainya Allah menghendaki tentu akan menjelaskannya kepada kita caranya, oleh karena itu kita mencukupkan dengan apa yang telah Allah jelaskan kepada kita dan meninggalkan apa yang samar maknanya [hakikatnya], sebagaimana yang Allah perintahkan:

هُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّٰهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ

" Dialah yang menurnkan Al-Kitab (Al-Qur'an). Diantara [isinya] ada ayat-ayat yang muhkam, itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan sebagian yang lain [ayat-ayat] mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang dalam ilmunya berkata: 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu datang dari Rabb kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran [daripadanya] melainkan orang-orang yang  berakal". (Ali-'Imran:7) 

Rasulullah bersabda: "Rabb kita tabaraka wa ta'ala turun pada setiap malam ke langit dunia, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir, Dia berfirman:
"Siapa yang berdo'a kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan, siapa yang memohon kepada-Ku niscaya akan Aku beri, siapa yang minta ampun niscaya akan Aku ampuni" (HR. Bukhari, Muslim)

Ummu Salamah [istri Nabi] mengatakan: "Seindah-indah hari adalah hari dimana Allah azza wa jalla turun ke langit dunia, maka dia ditanya: " Hari apakah itu" Beliau menjawab: "Hari Arafah" (Hadits hasan, dikeluarkan oleh Ad-Darimi dalam 'Ar-Ra'du 'ala Jahmiyyah")

Sumber : Kompilasi file CHM oleh Abu 'Abdirrahman Muhammad Taufiq

Sabtu, 08 November 2014

Bersemayamnya Allah d atas 'Arsy



Ahlul Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah subhanahu wa ta'ala berada di atas tujuh lapis langit, di atas 'Arsy-Nya, sebagaimana dalam surat Yunus:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأَمْرَ مَا مِن شَفِيعٍ إِلاَّ مِن بَعْدِ إِذْنِهِ ....
"Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada keizinan-Nya" (Yunus:3) 

اللّٰهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأَجَلٍ مُّسَمًّى يُدَبِّرُ الأَمْرَ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لَعَلَّكُم بِلِقَاء رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ
"Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Rabbmu". (Ar-Ra'd: 2)

 ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيراً  
"Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang Maha Mengetahui" (Al-Furqan:59)

 ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
"Kemudian Dia-pun bersamayam di atas 'Arsy".(As-Sajdah:4)


إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ
dan kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik..".(Fathir:10)

 يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ
"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya..". (As-Sajadah:5)

 أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ
"Apakah kamu merasa terhadap Allah yang di langit bahwa Dia menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga tiba-tiba bumi itu bergoncang". (Al-Mulk:16)

Allah subhanahu wa ta'ala memberitakan tentang Fir'aun yang terlaknat, bahwasanya ia pernah berkata kepada Haman (pembantunya):

 وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحاً لَّعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ - أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِباً
"Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Ilah Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta..." (Al-Mu'min:36-37)

Fir'aun berkata demikian karena ia mendengar Musa mengabarkan bahwa Rabbnya berada di atas langit.

Para ulama dan tokoh imam-imam dari kalangan salaf tidak pernah berbeda pendapat, bahwa Allah 'azza wa jalla' berada diatas 'arsy-Nya. Dan 'arsy-Nya berada di atas tujuh lapis langit. Mereka menetapkan segala yang ditetapkan Allah, mengimaninya serta membenarkannya. 

Mereka menyatakan seperti yang Allah katakan bahwa Allah bersamayam di atas 'Arsy-Nya. Mereka membiarkan makna ayat itu berdasarkan dzhahirnya, dan menyerahkan hakikatnya sesungguhnya kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Mereka mengatakan:

 آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ
"Kami mengimani, semuanya itu dari sisi Rabb kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal"(Ali-'Imran:7).

Sebagaimana Allah terangkan tentang orang-orang yang dalam ilmunya mengatakan demikian, dan Allah ridha serta memujinya.

Imam Malik pernah ditanya dalam majelisnya tentang ayat Allah:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى  
"Ar-Rahman bersemayam di atas 'ArsyNya".(Thaha:5),

bagaimana caranya Allah bersemayam?. Maka Imam Malik menjawab:" Bersemayam itu maklum (diketahui maknanya), bagaimananya (caranya) tidak diketahui, menanyakan bagaimananya adalah bid'ah, dan saya memandang kamu (penanya) sebagai orang yang sesat, kemudian memerintahkan untuk mengeluarkan penanya tersebut dari majelis. 

Abdullah bin Al-Mubarak berkata: "Kami mengetahui Rabb kami berada di atas 7 lapis langit, bersemayam di atas 'Arsy-Nya, terpisah dengan makhluk-Nya. Dan kami tidak menyatakan seperti ucapan Jahmiyyah bahwa Allah ada di sini, beliau menunjuk ke tanah (bumi)". (sanadnya hasan)

Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata: "Siapa yang tidak menetapkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala berada di atas 'Arsy-Nya maka dia kufur kepada Rabbnya, halal darahnya, diminta taubat, kalau menolak maka dipenggal lehernya, lalu bangkainya dicampakkan ke pembuangan sampah agar kaum muslimin dan orang-orang mu'ahad tidak terganggu oleh bau busuk bangkainya, hartanya dianggap sebagai fa'i (rampasan perang) -tidak halal diwarisi oleh seorang pun dari muslimin, karena seorang muslim tidak mewarisi harta orang kafir, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Seorang Muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim" (HR. Bukhari) 

Dalam hadits Mu'awiyah bin Hakam, bahwa ia berniat membebaskan budak sebagai kifarat. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menguji budak wanita. Beliau bertanya:"dimanakah Allah?", maka ia menjawab di atas langit, beliau bertanya lagi:"Siapa aku?", maka ia menjawab: "Anda utusan Allah". (HR.Muslim dan lainnya)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghukumi sebagai muslimah karena ia menyatakan bahwa Allah di atas langit.
                                                
Imam Az-Zuhri -imamnya para imam berkata: "Allahlah yang berhak memberi keterangan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang berhak menyampaikan dan kita wajib pasrah menerimanya" 

Wahhab bin Munabbih berkata kepada Ja'ad bin Dirham: "Sungguh celaka engkau wahai Ja'ad karena masalah itu (karena Ja'ad mengingkari sifat-sifat Allah)!, seandainya Allah tidak mengkabarkan dalam Kitab-Nya bahwa Ia memiliki tangan, mata dan wajah, niscaya aku tidak berani mengatakannya, takutlah kepada Allah!" 

Khalid bin Abdullah Al-Qisri suatu ketika berkhutbah pada hari raya I'dul Adha di Basrah, pada akhir khutbahnya ia berkata: "Pulanglah kalian kerumah masing-masing dan sembelihlah kurban-kurban kalian-semoga Allah memberkahi kurban kalian. Sesungguhnya pada hari ini aku akan meyembelih Ja'ad bin Dirham, karena ia berkata: Allah tidak pernah mengangkat Ibrahim 'alaihissalam sebagai kekasih-Nya, dan tidak pernah mengajak Musa berbicara. Sungguh Maha Suci Allah dari apa yang dikatakan Ja'ad karena kesombongan, maka Khalid turun dari mimbar dan menyembelih Ja'ad dengan tangannya sendiri, kemudian memerintahkan untuk disalib.

Sumber : Kompilasi file CHM oleh Abu 'Abdirrahman Muhammad Taufiq

Al-Qur'an Kalamullah bukan Makhluk


 
[Syaikh Abu Utsman Isma'il Ash-Shabuni berkata:] "Ashhabul Hadits bersaksi dan berkeyakinan bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah (ucapan Allah), Kitab-Nya dan wahyu yang diturunkan, bukan makhluk. Siapa yang menyatakan dan berkeyakinan bahwa ia makhluk maka kafir menurut pandangan mereka.

Al-Qur'an merupakan wahyu dan kalamullah yang diturunkan melalui Jibril kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dengan bahasa Arab untuk orang-orang yang berilmu sebagai peringatan dan kabar gembira, sebagaimana firman Allah ta'ala:

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ - نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ - عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ - بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ  
"Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy-Syu'ara: 192-195)

Al-Qur'an disampaikan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam kepada umatnya sebagaimana yang diperintahkan Allah:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ
"Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu". (Al-Maidah:67),

dan yang disampaikan oleh beliau adalah kalamullah. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
"Apakah kalian yang akan menghalangiku untuk menyampaikan kalam (ucapan) Rabbku
Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:" Adakah seseorang yang mau membawaku ke kaumnya?.
Sesungguhnya orang-orang Quraisy menghalangiku untuk menyampaikan kalam (ucapan) Rabbku" (HR. Bukhari dalam Af'alul 'ibad, At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Majah)

Al-Qur'an yang dihafal dalam hati, dibaca oleh lisan, dan ditulis dalam mushaf-mushaf, bagaimanapun caranya Al-qur'an dibaca oleh qari', dilafadzkan oleh seseorang, dihafal oleh hafidz, atau dibaca dimanapun ia dibaca, atau ditulis dalam mushaf-mushaf dan papan catatan anak-anak dan yang lainnya adalah kalamullah, bukan makhluk. Siapa yang beranggapan bahwa ia makhluk, maka telah kufur kepada Allah Yang Maha Agung.

Al-Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata: "Al-Qur'an adalah kalamullah-bukan makhluk. Siapa yang mengatakan Al-Qur'an adalah makhluk, maka dia telah kufur kepada Allah Yang Maha Agung, tidak diterima persaksiannya, tidak dijenguk jika sakit, tidak dishalati jika mati, dan tidak boleh dikuburkan di pekuburan kaum muslimin. Ia diminta taubat, kalau tidak mau maka dipenggal lehernya.
(Sanadnya shahih, disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Tadzkiratul Huffadz)

 Abu Ishaq bin Ibrahim pernah ditanya tentang lafadz Al-Qur'an, maka Beliau berkata: "Tidak pantas untuk diperdebatkan. 'Al-Qur'an kalamullah-bukan makhluk ".
                                          
Imam Ahmad bin Hambal berkata: "Orang yang menganggap makhluk lafadz Al-Qur'an adalah Jahmiyah, Allah berfirman:

 فَأَجِرْهُ حَتّٰى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللّٰهِ
"Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalamullah' (At-Taubah:6).
Dari mana ia mendengar? (Sanadnya Shahih)

Abdullah bin Al-Mubarak berkata: "Siapa yang mengkufuri satu huruf Al-Qur'an saja, maka ia kafir (ingkar) dengan Al-Qur'an. Siapa yang mengatakan: Saya tidak percaya dengan Al-Qur'an maka ia kafir"                  
                           
Sumber : Kompilasi file CHM oleh Abu 'Abdirrahman Muhammad Taufiq