Sabtu, 06 Desember 2014

Ciri-ciri Ahlus Sunah

Salah satu ciri ahlus sunnah adalah kecintaan mereka terhadap para imam sunnah dan ulamanya, para penolong dan para walinya. Dan mereka membenci tokoh-tokoh ahli bid'ah yang mereka itu mengajak kepada jalan menuju neraka dan menggiring pengikutnya menuju kehancuran. Allah telah menghiasi dan menyinari ahlus sunnah dengan kecintaan mereka kepada ulama-ulama ahlus sunnah, sebagai karunia dan keutamaan dari Allah ta'ala. 

Ahlus sunnah juga sepakat untuk merendahkan ahli bid'ah, menghinakan mereka, menjauhi dan memboikot mereka serta menghindari untuk bersahabat dengan mereka.


Janganlah kamu tertipu oleh banyaknya ahli bid'ah, karena banyaknya jumlah ahli bid'ah dan sedikitnya ahlus sunnah merupakan tanda dekatnya hari kiamat, sebagaimana sabda Nabi:

"Sesungguhnya termasuk diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat yaitu sedikitnya ilmu dan menyebarluasnya kebodohan (dalam agama)" (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya)


Ilmu itu sendiri merupakan sunnah dan kebodohan itu sendiri merupakan bid'ah.


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Iman itu akan mendekam di Madinah seperti ular yang mendekam dalam lubangnya. (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya )


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Tidaklah datang hari kiamat, sampai tidak terdengar lagi di muka bumi ini orang yang menyebut nama Allah, Allah, Allah  Dalam riwayat lain disebutkan lailaha illallah. (HR. Ahmad, Muslim dan lainnya) 

Siapa yang pada hari ini berpegang teguh dengan sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, melaksanakannya, istiqamah diatasnya serta mendakwahkannya, ia akan mendapatkan pahala yang lebih banyak dibandingkan dengan yang mengamalkan diawal munculnya Islam, sebagaimana sabda Nabi :"Sesungguhnya dibelakang hari nanti akan datang hari-hari yang penuh kesabaran. Orang yang berpegang teguh dengan apa yang kalian pegang teguh akan mendapat 50 kali pahala yang kalian peroleh". Beliau ditanya (oleh sahabat) : "Mungkin 50 kali pahala diantara mereka". Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Bahkan 50 kali pahala kalian". (HR. Ibnu Nashar dalam As-Sunnah dengan sanad shahih) 

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam mengatakan demikian bagi orang yang mengamalkan sunnah dimana pada masanya umat sudah rusak.                                   

Ibnu Syihab Az-Zuhri mengatakan: "Mengajarkan sunnah itu lebih utama daripada ibadah selama 200 tahun". 


Suatu ketika Abu Muawiyah yang buta berbicara dengan Harun Ar-Rasyid, maka ia menyampaikan hadits: "Suatu saat Nabi Adam dan Musa 'alaihima sallam berdebat tiba-tiba Ali bin Ja'far menyela: "Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, masa kehidupan Nabi Adam dan Nabi Musa kan berbeda masa yang lama". Lalu khalifah Harun Ar-Rasyid menghardiknya: "Dia menceritakan kepadamu  hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu kamu membantah dengan bagaimana mungkin?" Beliau terus mengulang-ulangi, sampai Ali bin Ja'far terdiam". 


Abu Utsman berkata: "Demikianlah seharusnya seseorang dalam mengagungkan hadits-hadits Nabi, menerimanya dengan sepenuh penerimaan, kepasrahan dan mengimaninya. Membantah orang yang menempuh jalan selain ini, sebagaimana yang dilakukan oleh Harun Ar-Rasyid -rahimahullah- terhadap orang yang berani membantah hadits dengan mengatakan: "Bagaimana mungkin?" yang tujuannya adalah membantah dan mengingkarinya. Padahal seharusnya ia menerima semua yang diberitakan oleh Nabi.


Semoga Allah menjadikan kita termasuk diantara mereka yang ketika mendengar hadits kemudian mengikutinya. Berpegang teguh sepanjang hidup dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, serta menghindari hawa nafsu yang menyesatkan, pendapat-pendapat yang sesat dan berbagai kejahatan yang menghinakan dengan karunia dan keutamaan dari Allah ta'ala. 

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya serta para sahabat ridhwanullahu 'Alaihi ajma'in.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar